Ketahui Bahaya dari Terlalu "Positif": Mengenali Konsep Toxic Positivity

Daftar Isi

Ketahui Bahaya dari Terlalu "Positif": Mengenali Konsep Toxic Positivity

Positivitas seringkali dianggap sebagai hal yang baik dan penting untuk dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Kita dianjurkan untuk selalu memandang sisi positif dari segala sesuatu, bahkan di tengah-tengah masa sulit. Namun, kadang-kadang terlalu banyak memaksakan rasa positif justru dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Konsep ini dikenal sebagai "toxic positivity" atau "toksisitas positifitas".

Toxic positivity mengacu pada sikap memaksa diri untuk selalu bersikap positif, meskipun situasi yang dihadapi sebenarnya sangat sulit dan menyakitkan. Sikap ini dapat terlihat dalam bentuk ungkapan "berpikir positif saja" atau "selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki". Meskipun niatnya mungkin baik, tetapi terlalu banyak mendorong seseorang untuk selalu berpikir positif dapat mengabaikan kenyataan dan perasaan yang sesungguhnya.

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

Toxic positivity dapat berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang. Ketika seseorang merasa tidak diijinkan untuk merasakan emosi negatif seperti kesedihan atau kekecewaan, maka hal ini dapat menyebabkan penekanan emosional. Penekanan emosional dapat menyebabkan terjadinya kecemasan dan depresi yang serius. Sebagai contoh, seseorang yang sedang merasakan kesedihan setelah kehilangan orang yang dicintai dapat merasa dipaksa untuk selalu berpikir positif. Hal ini dapat membuatnya merasa kesepian dan tidak diakui dalam perasaannya.

Toxic positivity juga dapat membuat seseorang merasa tidak dihargai. Ketika seseorang mengungkapkan perasaan negatif, mereka mungkin merasa tidak dihargai atau bahkan diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya. Ini dapat menyebabkan seseorang merasa kesepian dan terisolasi, serta menyebabkan sulitnya memperoleh dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya.

Toxic positivity juga dapat membuat orang merasa tidak diijinkan untuk berkembang dan tumbuh. Ketika seseorang selalu diminta untuk selalu berpikir positif, maka hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk menghadapi kenyataan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketika seseorang hanya memfokuskan diri pada hal-hal positif, maka hal ini dapat membuat mereka kehilangan kemampuan untuk belajar dari pengalaman negatif dan merenungkan kembali pilihan yang mereka buat.

Bagaimana Cara Menghindari Toxic Positivity

Untuk menghindari toxic positivity, sebaiknya kita belajar untuk menerima emosi negatif dan memahami bahwa rasa sedih atau kekecewaan adalah hal yang normal dan wajar. Kita dapat belajar untuk mengakui dan merespons emosi tersebut dengan cara yang sehat dan konstruktif. Sebagai contohnya, kita dapat mencari dukungan sosial dari orang-orang terdekat atau mengungkapkan perasaan kepada seorang terapis atau konselor.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan cara kita berbicara kepada orang lain yang sedang mengalami masa sulit. Kita dapat memberikan dukungan dan empati, tanpa harus memaksa mereka untuk selalu bersikap positif. Kita dapat mendengarkan dengan teliti dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan jelas.

Kita juga dapat mempraktikkan gratitude (bersyukur) secara sehat dan seimbang. Dengan menghargai hal-hal yang baik dalam hidup, kita dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan kita. Namun, kita juga perlu mengakui dan memperhatikan perasaan negatif dan mengatasi mereka secara konstruktif.

Terakhir, kita juga dapat mempraktikkan self-care yang sehat. Self-care yang sehat dapat membantu kita untuk mengelola stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Dengan cara ini, kita dapat merespons tantangan hidup dengan cara yang sehat dan produktif.

Kesimpulan

Toxic positivity dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Ketika seseorang merasa tidak diijinkan untuk merasakan emosi negatif, hal ini dapat menyebabkan penekanan emosional yang berbahaya. Kita dapat menghindari toxic positivity dengan cara menerima emosi negatif secara sehat dan mempraktikkan self-care yang sehat. Selain itu, penting juga untuk memberikan dukungan sosial dan empati kepada orang-orang di sekitar kita, tanpa memaksa mereka untuk selalu bersikap positif. Dengan cara ini, kita dapat membangun kesehatan mental dan emosional yang seimbang dan produktif dalam kehidupan sehari-hari.

sumber refrensi:

"The Dark Side of Positive Psychology" oleh Barbara Ehrenreich

https://www.nytimes.com/2014/03/16/opinion/sunday/the-dark-side-of-positive-thinking.html

"The Power of Negative Thinking" oleh Oliver Burkeman

https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2012/may/04/power-negative-thinking-oliver-burkeman

"Toxic Positivity: When Being Positive Harms Your Mental Health" oleh Deborah Glasofer

https://www.healthline.com/health/toxic-positivity

"The Dangers of Toxic Positivity" oleh Gemma Hartley

https://www.huffpost.com/entry/toxic-positivity-toxicity_b_5b7b7a98e4b0729515114ed4

"Toxic Positivity: Why Being Happy All the Time is Bad" oleh Malini Mohana

https://www.deccanchronicle.com/lifestyle/health-and-wellbeing/280820/toxic-positivity-why-being-happy-all-the-time-is-bad.html

"The Problem with 'Toxic Positivity'" oleh Susan David

https://www.psychologytoday.com/us/blog/emotional-agility/201909/the-problem-toxic-positivity

"Toxic Positivity: Why Too Much Positivity Can Be Harmful" oleh John M. Grohol

https://psychcentral.com/blog/toxic-positivity-why-too-much-positivity-can-be-harmful

"Toxic Positivity: Why It’s Important to Embrace All Your Emotions" oleh Allison Abrams

https://www.psychologytoday.com/us/blog/nurturing-self-compassion/201909/toxic-positivity-why-its-important-embrace-all-your-emotions

"The Problem with Toxic Positivity and How to Overcome It" oleh Kristine Thomason

https://www.health.com/mind-body/toxic-positivity

"Toxic Positivity: A Hidden Threat to Mental Health" oleh Charlotte Lieberman

https://www.theatlantic.com/health/archive/2019/08/toxic-positivity/595129/